Saya ingin menulis dengan tulus lagi

Bertepatan dengan hari ulang tahun saya yang kedua puluh tiga, saya berjanji pada diri sendiri untuk mulai menulis lagi. Janji ini saya kibarkan bukan karena saya sudah lama hiatus (sungguh, antara pekerjaan dan beban perkuliahan, menulis itu sudah bagian dari keseharian hidup), tetapi barangkali karena saya merasa bahwa saya tidak lagi menulis dengan tulus.

Saya ingat bagaimana delapan atau sembilan tahun lalu saya memulai menulis blog. Entah kesurupan apa, tiba-tiba saya membuat akun Google pertama saya dan mulai menulis di Blogger. Masih berseragam biru putih kala itu, saya terpesona dengan fenomena blogosphere yang dipelopori oleh Mas Radit (biar dikira kenal dekat) dan kawan-kawan blogger veteran lainnya.

Maka saya mulai menulis keseharian saya di sekolah bersama sahabat-sahabat saya kala itu. Dengan polosnya saya menceritakan hal-hal memalukan yang membuat saya rasanya ingin bekerja giat, menjadi billionaire, mengucurkan investasi untuk seluruh ilmuwan di dunia ini untuk menyegerakan pembuatan mesin waktu, kembali ke masa lalu, hanya untuk menampar wajah saya keras-keras.

Walaupun norak minta ampun, saya mengapresiasi inisiatif Ekky Pramana si anak SMP dalam menulis dan membagikan tulisannya ke sepersekian persen manusia di dunia tanpa tahu malu sama sekali. Tulis menulis ini terus saya lakukan sampai saat SMA yang entah bagaimana, kebiasaan menulis blog itu hilang sama sekali hingga sekarang.

Jika kamu mungkin berminat untuk melihat tulisan saya di masa lalu, Ini adalah blog versi SMA yang mudah-mudah lebih dirahmati Tuhan Yang Maha Esa. Tidak direkomendasikan untuk ibu hamil dan menyusui.

Namun jika ditelusuri lebih jauh lagi, kegemaran menulis saya dimulai saat saya duduk di kelas 4 SD. Saat itu saya sudah mampu menulis buku. Ya, buku.

Buku ini berisi kumpulan cerita sederhana tentang persahabatan tiga anak laki-laki dan beberapa anak perempuan yang tinggal di satu komplek. Ingatan saya agak kabur tentang bagaimana kisah buku itu berlangsung, yang saya ingat, saat itu saya sedang menggilai sekali novel-novel Lupus karangan Mas Hilman. Tidak heran saya mengambil seting persahabatan saat itu. Kalau saja saya masih ingat ceritanya, barangkali mesin waktu itu akan saya pakai untuk ke masa SD.

Apakah anak SMP menulis blog adalah sesuatu yang spesial? Tentu saja tidak. Apakah anak SD menulis buku adalah sesuatu yang spektakuler? Barangkali, kalau saja saat itu saya mengerti kalau menerbitkan buku bisa jadi duit dan duit bisa jadi koleksi gunpla yang lebih hebat lagi. Yang membuat saya kagum pada mereka adalah bukan karena hobi mereka dalam menulis sejak dini, tapi kemampuan mereka dalam menulis dengan tulus. Tulus dalam artian tanpa adanya kekang yang membatasi antara pikiran dan tulisan.

Saya ingin menulis dengan tulus lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s