Review Ada Apa dengan Cinta 2

Minggu ini merupakan ujian berat bagi para pemuda Indonesia. Ujian yang menghadapkan kita semua pada dua pilihan super sulit. Pilihan yang kadang mengakibatkan retaknya hubungan dua kekasih bahkan hubungan geng arisan kantor. Pilihan apakah akan nonton Captain America: Civil War atau Ada Apa Dengan Cinta 2 terlebih dahulu.

Untungnya saya dan kekasih memutuskan untuk menonton Civil War terlebih dahulu. Kalau tidak, malam Senin kemarin saya bakal nonton Civil War sama keluarga dan saya akan melewatkan kesempatan untuk nonton AADC 2 dua kali.

Ya, jujur saja, saya lebih memilih nonton dua kali AADC 2 ketimbang nonton Civil War. Bukan karena saya orangnya masokis, tetapi karena film ini beneran bagus. Walaupun dua-duanya sebenarnya keren, ada hal yang membuat saya merasa bahwa saya harus nonton kisah penutup Rangga dan Cinta itu lagi.

Film ini lagi-lagi membahas tentang persoalan kisah cinta antara Cinta dan Rangga yang ternyata tidak semulus kulit Dian Sastro. Bahkan tidak semulus kulit Nicholas Saputra juga. Masalah hubungan mereka ini membuat Rangga yang dulunya sinis dan suka cemberut, kini berubah menjadi suka cemberut aja. Sementara Cinta? Hidupnya masih bahagia aja. Dia punya galeri seni, punya tunangan om-om yang diperankan oleh Ario Bayu (udah kebayang kan se-om-om apa), pokoknya sempurna deh. Sampai… mereka dipertemukan di Jogja.

Mungkin di AADC pertama kita semua geleng-geleng juga melihat bagaimana kedua orang yang hampir nggak mungkin disatukan itu ternyata bisa dipersatukan. Secara misterius, sikap Rangga sok sinis yang nggak mau diwawancara tiba-tiba menghilang. Cinta juga yang sebelumnya sebal sama Rangga gara-gara songong pada akhirnya bisa kepincut juga. Saya berkali-kali menonton ulang AADC dan sampai sekarang nggak ketemu jawabannya.

Dan di film AADC 2 kali ini juga, secara misterius hal ini terjadi lagi. Bagaimana mereka menyelesaikan masalah yang ada. Bahkan setelah lebih dari 14 tahun (dikurangi beberapa saat ketika Cinta main ke New York) mereka dipisahkan. Ada kemistri yang terjadi antara keduanya yang kita, sebagai penonton, dibuat berspekulasi. Makanya sesungguhnya tepat bahwa judulnya Ada Apa Dengan Cinta, bukan Ada Apa Dengan Pak Wardiman. Ngomong-ngomong di sini tokoh Pak Wardiman nggak dibahas sama sekali. Sedih juga.

Alur cerita di sini benar-benar bikin saya teringat dengan kisah AADC yang sebenarnya saya nggak terlalu ingat. Yang saya tahu, beberapa kali saya dibuat senyum-senyum sendiri oleh beberapa scene. Ada juga beberapa scene yang cukup bikin hati saya ringsek seperti tong sampah habis ditabrak ibu-ibu belajar nyetir. Di film ini juga saya dibuat baperan. Bukan hanya karena jalan ceritanya tapi juga karena puisinya yang super maut bikin tenggorokan rasanya seperti habis menelan kura-kura. Menohok sedap gitu deh.

Segalanya begitu sempurna, kecuali satu hal yang bikin film ini agak kurang. Ending. Krusial banget kan? Saya nggak mau membeberkan banyak detil, tapi saya merasa bahwa ending yang digunakan sedikit meleset dari jalur. Ibarat naik roller coaster kemudian di akhir wahana orang di sebelah kamu muntah. Ilfil deh.
Ending yang digunakan di sini sejatinya bisa dibilang good ending sekaligus bad ending, karena sedih atau bahagianya sebenarnya tergantung pada sudut pandang masing-masing penonton. Tapi sekali lagi, jelas sekali bahwa arahan sutradara menginginkan para penonton untuk melihat akhir cerita ini dari satu sudut pandang.

Mungkin hal ini dilakukan untuk menuruti perintah pasar? Entah. Di kepala saya banyak sekali rumusan ending alternatif yang menurut saya eksekusinya bakal lebih bagus. Tapi untuk resolusi cerita yang akhirnya dipakai di AADC 2? Kebablasan.

Hemat saya, Ada Apa Dengan Cinta 2 ini benar-benar memperlihatkan bagaimana segala sesuatu tumbuh. Mulai dari aktornya, karakter yang dimainkan, sampai film Indonesia secara keseluruhan. Saya cuma berharap mudah-mudahan nggak perlu ada AADC 3. Udah gak lucu lagi kalau sampai beranak cucu masih putus nyambung juga.

Oiya, ada satu hal yang saya cukup kagum di film ini, yaitu product placement yang banyak disebar di berbagai adegan. Saya sih sebenarnya enggak masalah dengan adanya “iklan” dadakan kayak gini, namanya juga film butuh dana buat modal. Pokoknya kagum deh sama Aqua, Lenovo, Loreal yang lumayan keren selipannya. Tapi ya rada kebablasan juga itu.

Cerita: 7/10
Karakter: 6/10
Musik: 7/10
Nostalgia: 999999/10

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s