Romantisme bus malam

Beberapa waktu yang lalu saya menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah pameran otomotif di kota sebelah. Alasan saya ke sana bukan karena kecintaan saya pada dunia otomotif, atau merupakan pembuktian maskulinitas saya dengan petantang-petenteng di pameran sambil adu jago pengetahuan tentang mobil dengan bapak-bapak lain. Atau yang lebih parah, datang cuma untuk godain mbak-mbak SPG. Nggak lah yaw.

Alasannya sebenarnya sederhana saja. Saya sedang muak dengan rutinitas. Sebuah siklus karmik tanpa akhir yang terjadi selama saya jadi pengangguran intelek yang thesisnya tidak kelar-kelar. Seharian di rumah sambil meratapi diri kenapa nggak maju-maju sementara teman-teman saya carut-marut kocar-kacir cari uang di Jakarta. Maka saya melakukan sesuatu yang selalu saya lakukan untuk melepaskan diri dari samsara ini. Yaitu bepergian jauh dengan bus.

Bepergian dengan bus bagi sebagian orang yang sudah biasa pulang pergi ke kampung adalah hal yang sepele dan bahkan merupakan rutinitas yang harusnya tidak perlu dilakukan andai kata mereka punya cukup uang untuk naik pesawat atau kereta. Sebagai moda transportasi yang paling lambat namun belum tentu lebih murah dari transportasi lain, bus merupakan momok bagi banyak kalangan. Tapi tidak bagi saya.

Mari menapaktilas perjalanan saya berpetualang ke kota-kota besar di Eropa selama dua minggu dengan menggunakan bus.

Ralat. Kala itu saya bukanlah seorang petualang, apalagi seorang backpacker sejati yang bisa pergi kemanapun angin berhembus tanpa mengkhawatirkan apapun. Saya hanya mahasiswa Indonesia yang ingin memanfaatkan sedikit waktu liburan saya selama dua minggu dari tiga bulan meneliti di Slovakia. Berbekal uang seadanya, maka perjalanan kali itu disiapkan untuk tur yang seadanya pula.

wallpaper

Pesawat tentu saja terlampau jauh untuk digapai. Kereta merupakan pilihan tepat dari segi efisiensi, namun lagi-lagi uang yang ada tidak akan cukup untuk perjalanan ke banyak negara. Maka saya putuskan untuk menggunakan tiket terusan bus yang bisa digunakan selama dua minggu.

Tiket terusan ini memungkinkan saya untuk lompat-lompat dari satu negara ke negara lain tanpa tambahan biaya. Dengan catatan rute yang ingin dituju benar disediakan oleh perusahaan penerbit tiket terusan tersebut. Setelah mengkalkulasi waktu tempuh dan rute yang tersedia, akhirnya rancangan itenerary pun rampung. Dua minggu. Bratislava-Paris-Rome-Berlin-Prague-Bratislava. Sebuah rute yang tidak efisien karena saya harus melewati Prancis dua kali.

Ada satu masalah lagi yang tidak masuk kalkulasi brilian saya. Yaitu waktu yang terbuang selama di Bus. Jika dihitung-hitung, dalam dua minggu perjalanan saya, setidaknya lebih dari tiga hari dihabiskan hanya di dalam bus saja. Masalah yang sebenarnya saya sepelekan ini tiba-tiba saja menjadi masalah utama di dalam perjalanan ini karena ketiadaan Wifi. Perjalanan yang harusnya menyenangkan ini tiba-tiba dihancurkan oleh ketiadaan salah satu hak asasi manusia ini. Apa yang harus saya—seorang milenial dengan seperangkat gadget di tangan dan segudang waktu yang tersedia—lakukan di bus tanpa Wifi?

Saya merasa dirampok oleh perusahaan bus ini. Tidak ada Wifi yang dijanjikan selama perjalanan. Dan koneksi jaringan Slovakia saya tentu saja tidak tersedia di negara lain. Akibatnya selama di bus saya kehilangan koneksi dengan dunia luar. Satu-satunya koneksi yang saya miliki adalah dengan orang-orang asing yang berada di bus. Orang-orang yang sepanjang perjalanan hanya saling menatap dan mengangguk. Lima jam pertama saya berada di dalam bus, rasanya saya ingin pulang.

Saya pasrah. Dalam perjalanan malam ke Paris, saya menatap kosong ke luar jendela. Tidak ada hal yang terlihat di luar kecuali lampu jalan bernyala kuning yang secara bergantian membalut halus wajah saya. Deru mesin bus bergumam pelan. Kemudian saya menyadari bahwa suara itulah satu-satunya sumber suara yang saya dengar malam itu. Tidak ada suara mobil lain. Tidak ada suara percakapan lagi. Di jam 1 pagi kala itu, saya tertegun. Saya menemukan kedamaian.

Dan dalam kedamaian saya mulai menulis di ponsel. Menulis panjang sekali. Menulis apa saja yang ada di benak saya kala itu. Menulis cerpen, puisi, lirik lagu, catatan perjalanan. Ide mengalir deras. Tidak pernah dalam hidup sebelumnya saya menulis sebanyak itu. Sampai akhirnya sinar matahari muncul di sela-sela bukit, saya terlelap.

Ketika pagi itu saya terbangun, saya menemukan titik cerah baru. Saat itulah saya menganggap perjalanan dengan bus menjadi bagian dari petulangan saya di Eropa. Saya mulai berkenalan dengan orang-orang asing yang saya temui di bus. Seorang pemuda Slovakia bernama Michal, Jesus sang backpacker sejati yang menguasai tiga bahasa, Ling dan Yan sepasang suami istri dari Cina yang sedang berkuliah di Frankfurt, Mr. Markus pebisnis yang sedang berlibur sendirian di Roma, Ahmed (lupa nama sebenarnya) seorang Algeria yang mengeluh tentang perlakuan orang Eropa kepadanya, merupakan sedikit dari banyak orang yang saya temui selama di perjalanan. Merekalah jaringan komunikasi saya di bus kala itu.

Maka romantisme bisa kita temui di mana saja, bahkan di dalam bus yang tidak ada Wifi-nya.

Sumber gambar: Adorama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s