Menilik standar kenalakan remaja ala Awkarin

Saya pernah berjanji untuk menulis dengan tulus. Tapi lihatlah sekarang betapa tidak ikhlasnya saya menulis saat ini. Spoiler alert—saya menulis soal Awkarin.

Sesungguhnya saya paling anti mengomentari orang. Apalagi mendengarkan komentar orang lain tentang saya. Dan prinsip saya ini seharusnya tidak mengistimewakan cewek gaul bernama Karin Novilda ini. itupun kalau dikomentari oleh saya adalah sesuatu yang istimewa.

Alasan saya ngomongin Awkarin bukanlah karena drama putus cinta lima bulan Awkarin-Gaga yang seperti persoalan hidup mati itu. Bukan juga karena vlog tempat Awkarin bersusah payah menunjukkan belahan susu yang kadang kelihatan kadang enggak demi seonggok view.

Hal yang membuat saya tergugah esungguhnya adalah karena baru-baru ini dia menjadi bintang tamu di lagu terbaru Young Lex yang berjudul Bad. Karin, kamu menang. Saya terpaksa ngomongin kamu demi kebaikan bangsa ini.

Di suatu siang di kantor saya yang kebanyakan AC, saya melihat salah seorang teman di Facebook membagikan video ini lewat linimasanya. Penasaran, saya ambil headset dan memutar klip video itu diam-diam. Menjaga citra di kantor itu sesungguhnya sulit sekali.

Karena ingatan saya tentang musik Young Lex masih tidak lepas dari YouTube YouTube YouTube lebih dari tivi, maka saya tidak menaruh ekspektasi berlebih di video terbarunya ini.

Musik mengalun pelan dengan nuansa gelap sangat kental di video itu. Ada Young Lex, Awkarin, serta segerombolan orang yang berpenampilan serupa bergoyang-goyang hip hop keren di video itu. Sedikit demi sedikit, saya mulai mencerna lirik di dalamnya.

Mereka bilang diriku tak berguna
tapi sejak remaja
ku tak pernah meminta

Biaya untuk bergaya
bukan duit dari orang tua
lulus sekolah tak mau manja
ku kerja tuk biaya kuliah

Oke, ini bagian yang cukup menarik, batin saya waktu itu. Saya sangat respek dengan orang-orang yang mencoba hidup mandiri dengan berbagai macam ide kreatif. Saya teringat pada seorang sahabat saya tiap hari berjualan nasi goreng di SMA dulu. Bagi saya, individu seperti ini pastinya akan lebih menghargai uang karena tahu sulitnya mencari uang.

2011 mereka bertanya
nanti besar elo itu mau jadi apa

Mereka mengejek
mereka mencela
ini anak nakal
masa depan nggak ada
memang sekarang aku tak bekerja
bisnisku lebih dari mereka

Oke Lex (saya boleh kan ya manggil Lex), secara teknis bisnis itu bekerja. Tapi benar juga sih, mempunyai semangat entrepreneur itu penting sekali di usia dini. Saya baru bisa mencukupi kebutuhan sosial saya tanpa uang jajan dari orang tua di umur dua puluh tahun. Dan saya pikir saya terlambat sekali waktu itu.

Tapi, nakal tidak bisa dijustifikasi dengan keberhasilan finansial … ya kan?

Yes
memang gue anak nakal
seringkali ngomong kasar
tapi masih batas wajar

Lo semua lah yang paling benar
lo semua nilai kita dari luar
tatoan tapi tak pakai narkoba
jangan nilai kami dari covernya

I’m bad girl
bila kau tak pernah buat dosa
silahkan hina ku sepuasnya
kalian semua suci aku penuh dosa

I’m bad boy
kau benci ku yang apa adanya
dan silahkan sukai mereka
yang berlaga baik didepan kamera

Saya mendengus. Keras sekali. Khawatir kotoran hidung beterbangan, saya cepat-cepat mematikan video itu dan pergi ke kamar kecil. Setelah beberapa menit mencuci muka, saya menulis catatan untuk membuat tulisan ini. Ya, tulisan yang sedang kamu baca ini.

Beberapa potongan lirik yang terakhir ini membuat saya bergidik ngeri. Awkarin dan Young Lex dengan ratusan ribu penggemar yang menganggap gaya pacaran kontraproduktif ala Awkarin-Gaga adalah relationship goals, anak-anak putri yang menjadikan setelan sports bra sebagai fashion statement, bagi mereka lirik di atas merupakan afirmasi alam bawah sadar mereka. This is so disturbing.

Pertama, tidak ada batas wajar untuk ngomong kasar. Ada alasan kenapa kata-kata ini disebut kata kasar, adalah untuk memisahkan kategori kata mana saja yang pantas dan tidak pantas didengar oleh orang lain. Mendengar umpatan yang dilontarkan oleh Awkarin lewat vlog-nya, saya bahkan tidak tahu kata macam apa yang menurutnya di luar batas kewajaran.

Kenapa saya khawatir soal ginian, karena saya punya adik berusia remaja yang nonton Pewdiepie saat bapak saya ada di situ. Dan bapak saya, yang kebetulan bisa berbahasa Inggris, sontak kaget dengan tontonan adik yang kita semua tahu, Pewdiepie kadang ngomongnya nggak disaring. Mungkin bagi adik saya omongan kasar seperti itu sudah wajar dan dia nggak sadar kalau kata-kata itu sangat nggak pantas di dengar oleh orang tua. Apalagi orang tuanya sendiri.

Kedua. Oh poin kedua, betapa lawaknya pernyataan ini. Tatoan tapi tak pakai narkoba. Saya tahu kadang lirik lagu hanya menyampaikan inti permasalahan dengan kiasan dan tidak terlalu menggambarkan maksud sebenarnya, tapi sadar nggak sih kalau Awkarin dan Young Lex menempatkan pengguna narkoba sebagai standar kenakalan bagi mereka?

oukli

Bagaimana kalau argumen ini dipakai pada contoh yang lain. Misalnya, tawuran tapi tidak pakai narkoba, malak orang tapi tidak pakai narkoba, atau hamilin anak orang tapi tidak pakai narkoba. Jika menggunakan narkoba dianggap sebagai patokan kenakalan remaja, hasilnya banyak sekali hal buruk yang bakal dianggap wajar.

Sungguh saya takut kalau pemahaman ini dijadikan kode pergaulan oleh anak muda yang mengidolakan mereka. Secara tidak sadar mereka menanamkan waham ini pada anak-anak yang menonton. Selama tidak pakai narkoba, bisa berpenghasilan tanpa minta orang tua, berbuat apa saja bakal dianggap wajar. Jadi, menurut standar para figur publik ini, menjadi anak nakal itu sulit sekali.

Ketiga, mereka mencoba menjustifikasi kembali kelakuan mereka dengan mengarahkan isu pada orang yang “munafik”. Mungkin pernyataan ini di arahkan pada politikus yang suka berkata manis di depan televisi, atau pada YouTuber dan selebritis yang penuh dengan semangat positif namun kelakuannya bertolak belakang, atau mungkin diarahkan pada orang-orang seperti saya, yang cuma bisa komentar lewat tulisan di blog pribadi padahal entah aslinya seperti apa?

Mari kita teliti apa persamaan ketiga pihak yang mereka singgung di lirik lagu Bad ini. Ya, pihak-pihak ini kompeten membedakan mana hal yang baik dan buruk. Mana hal yang pantas dan mana yang nggak. Mana yang bisa dipertunjukkan ke orang lain, dan mana yang cukup diri sendiri yang tahu.

Jika budaya malu disejajarkan dengan kemunafikan, dianggap ketimur-timuran dan ketinggalan zaman, maka kapal kita sedang mengarah ke batu es raksasa dan siap tenggelam.

Dan mungkin kali ini kita tidak punya cukup banyak pelampung untuk menyelamatkan anak-anak kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s