Kuliner Bandung adalah misteri yang tidak perlu dipusingkan

Akhir minggu ini saya terdampar di Bandung karena suatu urusan keluarga. Urusan keluarga kali ini sebenarnya tidak memperhitungkan kehadiran saya sebagai faktor penting. Final Fantasy XV yang saya pesan beberapa hari silam juga sudah tiba di rumah. Ditambah lagi, seorang teman sedang mengadakan gig penting di Gramedia Depok.

Ah, banyak sekali faktor yang memaksa saya mencari seribu alasan untuk tidak ikut ke Bandung. Namun pada akhirnya, toh saya tetap berakhir di sini, di atas kasur hotel di bilangan jalan Juanda, terkantuk-kantuk menyusun tulisan blog ini di dini hari buta.

Sudah sering saya dengar berbagai teman dari berbagai lingkaran sosial saya menyatakan kecintaan dan penghambaan mereka pada Kota Kembang ini. Alasannya tidak jauh-jauh—Bandung kota kelahiran, Bandung tempat menimba ilmu, Bandung lokasi wisata belanja, atau alasan yang lumayan klise, Bandung di mana cintanya bersemi dan bersemayam.

Bandung bukanlah kota yang spesial di hidup saya. Saya tidak lahir dan tumbuh di Bandung. Saya juga gagal masuk ITB. Untuk urusan belanja, saya tidak peduli di mana baju saya dijual, yang penting nyaman dan awet dipakai. Cinta? Ah, hati saya sudah terlanjur berlabuh di Bekasi. Jadi sekali lagi, hubungan saya dengan Bandung tidaklah serupa romansa platonik yang sering diperdengungkan orang banyak.

Bandung, bagi saya adalah anomali. Retorika tidak terjawab yang bisa ditemui lewat jutaan kuliner yang ditawarkannya. Hari ini, saya menemui sekeping anomali Bandung lainnya.

Jam setengah dua belas malam, adik pertama saya tiba-tiba membelokkan mobilnya masuk ke Stasiun Bandung. Saya tidak banyak bertanya, hanya mengamati lahan parkir stasiun yang mulai sepi.

‘Di sini ada perkedel yang enak banget,’ katanya singkat. Saya terkesiap. Belum sempat saya bertanya lebih lanjut, saya melihat secercah cahaya remang yang berasal dari satu toko kecil yang dipadati puluhan orang. Sebuah papan nama terpampang memanjang di atas atapnya. PERKEDEL BONDON.

‘Toko ini cuma jual perkedel?’ tanya saya seakan tidak percaya pada apa yang saya lihat. Malam itu hujan sedang lebat-lebatnya, namun tidak menghalangi semangat orang yang mengerumuni toko itu. Setengah hati saya mencoba masuk ke kerumunan untuk mengipasi rasa penasaran saya.

Warung perkedel ini ternyata dikerjakan oleh sepasang kakek nenek yang cekatan menyendok adonan perkedel ke dalam wajan berisi minyak panas kemudian membolak-balikannya dengan spatula. Saya bisa melihat peluh tercucur di dahi mereka akibat wajan-wajan besar yang menghangatkan di kala hujan dingin malam itu.

Demi jenggot Merlin, orang-orang Bandung ini sungguhan mengantre sepanjang ini hanya untuk seonggok perkedel yang kelihatannya seperti perkedel pada umumnya. Walau adik saya sudah suwar-suwer kalau perkedel yang dijual di sini out of this world, heaven made, apapun itu, saya tetap skeptis sebelum mencicipinya sendiri. Tapi boro-boro mencicipinya, kamu sudah urung duluan mengantre di kerumunan orang-orang ini.

Malam itu kami meninggalkan Perkedel Bondon dengan tangan dan perut yang kosong. Tetapi pikiran saya tetap tertinggal di warung kecil yang menghangatkan itu. Bandung sepertinya memiliki faktor magis yang mengikat rasa percaya antara pedagang dan konsumen. Bagaimana makanan simpel seperti sebuah perkedel kentang, yang dijual di sebuah warung yang hanya buka pada malam hari, bisa sampai di telinga para pecinta kuliner, hingga akhirnya para pembeli rela tumpah ruah mengantre di kala hujan? Siapa yang menjembatani mereka?

Fenomena ini bukanlah hal yang langka di Bandung. Lihatlah kudapan seperti tahu buleud, seblak, dan berbagai makanan khas lain yang berasal dari bandung. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana makanan-makanan tersebut menjadi populer saat ini. Seperti halnya manusia pertama yang meminum susu sapi, para pionir kuliner tanpa nama ini telah melakukan leap of faith yang cukup berbahaya demi kemaslahatan manusia.

Bandung memang menyimpan banyak misteri. Apa lagi kulinernya. Misteri-misteri inilah yang tetap menyeret saya untuk tetap mengunjungi Bandung sewaktu-waktu. Tapi walau bagaimanapun, rasanya berbagai pertanyaan ini tidak perlu terlalu dipusingkan. Cukup dinikmati saja dengan secangkir teh atau segelas gula asem.

Karena orang Bandung tidak pernah ambil pusing, ya kan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s