Saya benar-benar tidak mengerti apa yang saya lakukan saat ini

Malam ini saya sedang buka-buka file proyek desain saya sejak masih kuliah. Nggak berasa, sudah empat tahun lamanya saya mendalami hobi iseng penambah uang jajan yang kemudian menjelma menjadi profesi ini. Lucunya, kalau dilihat-lihat semenjak belajar Inkscape pertama kali hingga kini bekerja sebagai desainer grafis di Tech in Asia Indonesia, kualitas gambar saya nggak banyak berubah.

Berkali-kali saya membandingkan dua gambar saya yang terpaut waktu empat tahun. Konsep yang kasar, warna yang amburadul, garis yang tidak apik. Ciri-ciri tersebut hampir semuanya bisa ditemui di kedua gambar tersebut.

Saya terkesiap. Mungkin saya kurang mau belajar. Barangkali keterbatasan tool yang dimiliki Inkscape-lah sumber masalahnya. Kalau memang itu masalahnya berarti saya memang kurang mau mengeksplorasi kemungkinan menggunakan software grafis lainnya. Ergo, malas belajar.

Atau mungkin, hanya sekadar mungkin, memang sayanya yang tidak jago-jago amat.

Kalau disuruh membandingkan skill diri sendiri dengan orang lain, perut ini rasanya mual tidak keruan. Kalau sudah lihat gambar yang alamakjan bangsat keren banget bawaannya langsung jiper. Makanya saya paling tidak suka kepo akun Dribbble dan DeviantArt tukang gambar lain.

Ngomong-ngomong soal gambar, secara teknis bahkan saya bukan tukang gambar. Yang saya lakukan selama ini hanya menarik garis menggunakan mouse kemudian memberi isian warna. Ya mirip-mirip sama apa yang kamu bikin pakai Paint semasa SD lah.

Saya ngomong gini bukan buat nyari pembelaan, bukan juga minta dipuji-puji. Kalau boleh sombong (nggak boleh sombong sih, tapi kan perumpamaan aja), saya sudah bosan dengar pujian. Yang saya butuhkan sekarang kritik membangun yang menampar halus cenderung mengelus. Sori, salah fokus.

Rasanya saya ingin bertanya pada diri saya empat tahun lalu, apa yang menyebabkan kamu(saya) memutuskan untuk mendalami desain grafis? Apa karena dulu kamu(saya) dapat uang banyak dari hasil gambar? Apa karena kamu(saya) merasa bahwa desain grafis adalam passion terpendam kamu(saya)? Lantas, apakah meninggalkan ilmu yang didapat selama kuliah untuk mengejar passion ini setimpal? Is it worth the damn time to pursue what you think you believe in?

Saya beneran ingin bertanya karena saya benar-benar lupa jawabannya.

Yang jadi pertanyaan besar di kepala saya saat ini adalah, apakah kemampuan desain saya saat ini akan membantu saya menapaki jenjang karir berikutnya. Pertanyaan logis selanjutnya datang saat saya harus memilih antara gairah dan karir, atau antara idealisme dan kenyataan. Ngeri-ngeri sedap euy kalau sudah ngomongin jenjang karir. Tiba-tiba langsung kebayang tuh anak saya udah SD minta dibeliin sepatu futsal baru.

photo-3
Pusing pala Megatron

Kalau memang ini titik terendah saya, maka saya bisa sedikit senang. Seenggaknya saya tahu ini saatnya menyusun ulang strategi untuk bangkit lagi. Tulisan ini akan memiliki fungsi tambahan sebagai catatan mental. Yang akan saya lakukan adalah;

  1. menerima kenyataan dengan sepenuh jiwa dan raga bahwa saya memang tidak lebih jago dari jutaan orang dalam hal desain grafis;
  2. menjadikan poin di atas sebagai cambuk untuk berkembang menjadi versi terbaik diri sendiri, bukan menjadi desainer grafis yang lebih baik dari orang lain;
  3. berlaku profesional dalam bekerja dan memberikan yang terbaik untuk perusahaan dan komunitas; serta
  4. membudayakan haus menuntut ilmu, terlepas apapun bidangnya.

Gila formal amat Ky kayak deklarasi kemerdekaan Zimbabwe.

Maaf ya teman-teman pembaca yang budiman, gini nih kalau saya mulai terserang anxiety dini hari. Padahal awalnya saya hanya niat bikin postingan berbentuk opini. Eh hasilnya malah flat out curhat.

Tapi sebagai catatan, ini bukan curhat soal kantor loh ya. Saya sangat cinta pekerjaan saya sekarang dan merupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk bekerja di perusahaan yang saya segani dan saya banggakan. Ini simply soal galau pribadi saya.

Yah, gapapa kan ya. Ini kan blog pribadi saya, yang bayar domain-nya saya juga, kenapa yang repot malah Pak Anies dan Pak Uno? Lah, mereka sih memang harus mulai repot soalnya Oktober nanti bakal dilantik untuk mengurusi DKI Jakarta tercinta selama lima tahun ke depan. Selamat bertugas ya bapak-bapak. Semoga amanah.

Ini ngomongin apa sih. Tidur saja deh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s