Redesain Instagram — frustrasi yang berbuah ilham

Selamat hari buruh nasional!

Saat Instagram merombak brand secara total di tahun 2016, saya terkesima. Desain logo bernuansa skeuomorfisme hilang digantikan dengan logo glyph kamera sederhana dengan warna yang meriah. Warna dasar biru putih digantikan dengan warna putih abu-abu yang mempertegas kontras dengan logonya. Redesain itu menurut saya menjadikan aplikasi Instagram salah satu yang terbaik saat ini. Mungkin keputusan Instagram untuk melakukan perombakan besar-besaran itu menjadi salah satu alasan saya aktif kembali menggunakan Instagram.

Salut banget pokoknya sama tim desainer Instagram. Kecup sayang.

Mendesain UI suatu produk sebenarnya menjadi salah satu kegemaran saya semasa kuliah, namun pada saat itu saya lebih fokus mengerjakan hal yang bisa mendatangkan duit, seperti bikin komisi lewat Fiverr dan gambar ratusan logo untuk jadi icon pack. Karena saya kepalang janji pada diri sendiri untuk belajar hal-hal baru, makanya saya memutuskan untuk mengkaji kembali kegemaran saya yang sempat terkubur lama ini.

Sesuai nasehat beberapa teman desainer dan developer yang ilmunya super cihuy, saya memutuskan untuk menggunakan Sketch sebagai awal yang oke untuk belajar. Gatau Sketch itu apa? Sini saya kasih tahu. Intinya dia adalah program desain (khusus Mac OS) berbasis vektor yang fitur-fiturnya mendukung kemudahan mendesain UI dan UX aplikasi untuk keperluan pembuatan purwarupa atau prototype.

Cara belajar saya sih lumayan simpel. Cukup mempelajari dan mengingat semua tool yang disajikan oleh Sketch, lalu mempraktekan workflow secara langsung seolah-olah saya seorang desainer UI betulan. Untuk itu saya memutuskan untuk menjadikan Instagram sebagai obyek studi. Alasannya, karena desain Instagram keren banget, dan saya sering pakai, sehingga saya bisa dengan mudah mengidentifikasi masalah yang hendak diselesaikan.

Sialnya, karena waktu trial Sketch yang terbatas, saya nggak punya banyak waktu untuk melakukan survey dan riset data pengguna. Maka saya menggunakan pendekatan a posteriori atau empiris dalam proyek redesain Instagram kali ini. Artinya saya menggunakan intuisi dan pengalaman pribadi menggunakan Instagram sebagai dasar argumen saya. No bully ya masih nubi gan.

Pertama-tama mari kita kaji desain yang saat ini diusung Instagram.

Instagram | Photo

Dari tiga screenshot yang saya ambil langsung dari smartphone saya—demi kebaikan semua orang, konten di dalamnya saya samarkan—ada beberapa poin yang menarik untuk dibahas:

Penggunaan metode berulang

Instagram menerapkan metode swipe untuk mengakses beberapa fiturnya. Swipe kanan untuk masuk ke kamera Stories, swipe kiri untuk masuk ke fitur pesan (Direct), swipe untuk mengakses daftar Stories, dan swipe untuk melihat pos dengan format multiple content (album). Kamu merasa ada sesuatu yang aneh? Saya melihat metode swipe yang berulang dipakai Instagram di dalam satu page kurang intuitif serta rawan terjadi kesalahan pengguna.

Ini adalah salah satu frustrasi utama saya saat menggunakan Instagram. Tidak jarang ketika saya ingin menikmati foto album yang dibuat teman saya, tapi setiap kali menggeser foto, saya malah masuk ke fitur Direct. Mungkin ini tidak dialami oleh pengguna lain, tapi bagi saya hal ini sangat mengganggu.

Instagram ingin semua orang menggunakan fitur Direct, tapi kalau tidak bisa pun tidak masalah

Saya merupakan pengguna fitur Direct militan. Hampir setiap hari saya berbagi konten “menarik” dengan sebuah grup teman lewat fitur ini. Saya merasa Instagram sangat menginginkan penggunanya menggunakan Direct karena berarti tingkat retensi pengguna (kebetahan) yang lebih tinggi. Instagram tahu benar potensi Direct yang rasanya mampu menggantikan kebutuhan pengguna akan aplikasi chatting mandiri seperti WhatsApp dan Messenger.

Hanya saja Direct hanya bisa diakses lewat Home. Meski terkesan cukup mudah diakses, use case yang terbatas ini juga tidak memberikan insentif yang cukup untuk pengguna Direct. Jadi sebenarnya Instagram niat bikin Direct jadi beken nggak, sih?

Notifikasi jadi-jadian

Jujur saya agak pusing kalau disuruh membaca notifikasi Instagram. Pertama karena dia dikelompokkan di menu yang sama dengan Following (yang oleh satu dan lain hal diwakilkan dengan logo hati). Lebih parahnya lagi, jika kamu scroll tab You sampai bawah, kamu akan menemukan daftar pengguna yang direkomendasikan. Hayo siapa saja yang nggak sadar ada fitur ini? Kebingunan saya berlanjut kepada masalah selanjutnya yaitu …

Siapa yang mengakses tab Following?

Ini pertanyaan unik yang timbul di benak saya semenjak menggunakan Instagram. Soalnya, saya sendiri tidak pernah memanfaatkan fitur ini. Heck, bahkan saya tidak begitu paham sebenarnya fungsinya untuk apa selain untuk kepo. Kadang saya suka tidak mengerti dengan keputusan Instagram dalam mengelompokkan fitur.

Kurang Material

Ampun, kalau misalnya ini lebih condong kepada keluhan ketimbang masukan. Desain brand Instagram saat ini menurut saya sudah sangat oke, Tetapi sebagai pengguna Android, bagi saya Material Design adalah kitab pedoman penting layaknya kitab Buddha yang dicari Tong Sam Cong. Jadi untuk saat ini saya akan menggunakan Material Design dalam membuat redesain ini.


Nah sekarang apa?

Kita sudah mengidentifikasi apa saja hal yang sekiranya kurang bisa diperbaiki di Instagram. Dari beberapa poin di atas, saya mengajukan beberapa solusi demi meningkatkan user experience Instagram.

  1. Meminimalisasi penggunaan metode swipe secara keseluruhan.
  2. Menjadikan Instagram Stories sebagai insentif pengguna untuk mengakses Direct.
  3. Mengasimilasi berbagai fitur sekaligus ke dalam satu fitur bernama Discover.
  4. Memisahkan notifikasi menjadi fitur mandiri.
  5. Materialize everything!

12a

Untuk mengurangi frustrasi saya akan metode swipe yang berulang, saya sedikit merubah layout halaman utama Instagram. Hal yang pertama terlihat dari gambar di atas adalah hilangnya akses swipe menuju kamera Stories dan fitur Direct. Sebagai gantinya, saya menempatkan Profile dan akses Notification di bagian toolbar.

Saya memutuskan untuk tetap menggunakan bottom navigation sebagai navigasi utama, tetapi hanya menjadi rumah tiga menu utama yaitu Feed yang berisi foto dan video yang diunggah oleh pada pegguna, Direct yang menjadi penghubung pengguna, serta Discover yang merupakan fitur Search yang saya redefinisi ulang.

Seperti anjuran Google saat menyusun Material Design, floating action button dapat digunakan untuk memancing perhatian pengguna pada suatu action penting—dan dalam kasus Instagram— tentu saja berbagi foto dan video.

Kamu mungkin bertanya-tanya, “kemana hilangnya fitur Stories yang saya gemari?” Tentu saja tidak dihilangkan tetapi saya pindahkan.

12b

Seperti yang telah saya utarakan sebelumnya, Direct perlu mendapat perhatian khusus. Karenanya saya menempatkannya di bottom navigation untuk kemudahan akses dari mana saja. Tidak hanya itu, keputusan saya untuk menempatkan fitur Stories bersamaan dengan Direct ini bukan tanpa alasan.

Alasan pertama tentunya memberi insentif bagi pengguna untuk mengakses Direct, yang mana diperlukan pemantauan lebih lanjut untuk membuktikan argumentasi ini.

Alasan kedua, Stories memiliki metode akses swipe yang sebaiknya juga dipisahkan dari Feed. Penempatan Stories yang statis di atas Direct juga memudahkan aksesnya.

Alasan ketiga, Instagram Stories memiliki fitur untuk mengirim foto sementara pada satu akun pengguna atau grup lewat Direct. Artinya, Instagram menjiplak Snapchat kedua fitur ini memiliki keterkaitan.

12c

Fitur Discover merupakan bagian tersulit dalam hal realisasi ide, sekaligus bagian yang menurut saya memiliki hasil paling memuaskan. Berangkat dari argumen bahwa pengelompokkan fitur Instagram tidak terlalu oke, saya memutuskan untuk mengelompokkan ulang sebagian besar fitur ke dalam Discover.

Simpelnya, fitur Following yang hanya menunjukkan aktivitas teman di Instagram tidak benar-benar dibutuhkan. Lebih baik menggunakan informasi apa saja yang di-like oleh teman menjadi sebuah rekomendasi.

Recommended for you berisi konten apa saja yang tidak hanya disukai oleh pengguna, tetapi juga konten yang disukai oleh teman-teman pengguna. Kalau bahasa kerennya sih, common interest.

People you may know tidak hanya menunjukkan daftar orang-orang yang memiliki hubungan dengan teman-teman pengguna, tetapi pengguna lain yang memiliki kesamaan kegemaran juga muncul di situ.

Fitur Search juga ambil bagian di dalam Discover. Menurut saya eksekusi Instagram dalam menyusun fitur pencari itu sudah lumayan sempurna sehingga saya tidak perlu menyentuhnya lagi.

Terakhir, saya menyederhanakan notifikasi menjadi hal yang mudah digunakan. Pengguna cukup melihat notification count di atas ikon Notification untuk mengetahui berapa banyak notifikasi yang masuk. Di dalamnya, pengguna bisa melakukan swipe untuk menghapus notifikasi yang sudah dibaca. Notifkasi lama yang belum terhapus masuk pada kategori Older.


Rentetan gambar di atas merupakan hasil bermain dan belajar menggunakan Sketch dalam beberapa hari. Pengerjaannya memakan waktu yang cukup lama walaupun tool yang ditawarkan Sketch jauh lebih canggih dan mudah dibandingkan dengan Inkscape. Saat ini sih saya masih lumayan percaya diri kalau saya bisa mereplikasi desain yang sama dengan Inkscape dalam waktu yang lebih singkat. Tapi ini masalah kebiasan saja sih.

Pelajaran yang saya dapat, mendesain UI dan UX untuk pengguna itu susah-susah gampang ya. Nggak sesimpel corat coret seenak udel seperti kerjaan saya saat ini. Kalau kalian punya pendapat yang lebih oke, boleh banget komentar di bawah ini. Mari sama-sama belajar!

Sampai jumpa di seri UI UX berikutnya!

 

Iklan