Diam.

Dahulu, saya mendapati seorang anak menangis di sebuah pusat perbelanjaan. Kasihan, saya hampiri orangtuanya yang kebetulan berada tidak jauh dari anak tersebut. Siapa sangka, ternyata sang ibu sudah lebih dahulu mengetahui perihal tangis anaknya.

“Biarkan saja, nanti juga diam sendiri.”

Tega betul ibu itu, pikir saya waktu itu. Rasanya sungguh tidak bijak seorang ibu membiarkan anaknya rewel dan ribut sampai mengganggu orang lain. Tahu sendiri kan, anak kecil kalau nangis bisa sampai teriak-teriak. Bahkan kalau perlu ia akan guling-guling di lantai. Semua itu cuma untuk mencuri perhatian ibunya.

Eh, tidak lama anak itu diam sendiri. Capek sepertinya.

Fast forward ke masa sekarang, rasanya hal yang dilakukan sang ibu cocok diaplikasikan pada situasi negara yang kian memanas. Ya, kuncinya hanya satu. Bagi kita, pihak yang tidak kuasa menambahkan value apapun demi memperbaiki ruwetnya sitasi ini, diam adalah pilihan paling bijaksana.

Sudah beberapa bulan terakhir banyak teman-teman akademisi yang setelah lama memilih berdiam, akhirnya angkat suara lewat pos panjang di Facebook. Teman-teman lain yang membaca pos tersebut, membalas dengan argumentasi yang tidak kalah hebat. Makin seru, teman yang pertama melancarkan serangan balasannya.

Gitu aja terus sampai Sket Dance season 3 keluar.

Balik lagi soal value, apa sih pelajaran yang didapat dari perang opini yang selalu terjadi? Tidak ada. Argumen A akan selalu didukung oleh pihak A dan diserang oleh pihak B, juga sebaliknya. Tidak ada kalimat yang cukup pintar dan argumen yang cukup kuat yang mampu membalikkan hati lawannya.

Bahkan pos saya kali ini, walaupun saya berpikir keras untuk memilih kata-kata terbaik yang bisa saya telurkan, tentu saja tidak akan mengubah kamu yang A menjadi B dan kamu yang B menjadi A. Kita semua hanya saling menambah bising. Kita semua hanya mengoyak air yang sudah terlanjur keruh.

Ibarat di jalan raya, kita hanyalah penonton kecelakaan lalu lintas. Tidak turut membantu, hanya menghalangi gerak pertolongan yang sesungguhnya.

Bagi teman-teman yang benar-benar berusaha melakukan perubahan nyata, yang turun langsung demi menolong para korban, saya salut pada kamu dan akan tetap menghormati apapun ideologi dan keyakinan yang kamu pegang teguh.

Tapi, bagi saya dan kamu para penonton yang cuma bisa bising serta tidak mampu menambah value apapun demi kebaikan bangsa dan negara, lebih baik diam saja. Tidak perlu like mereka yang bilang kalau hukuman pidananya kurang, tidak perlu share argumen yang bilang hukum indonesia sudah rusak, tidak perlu marah-marah di kolom komentar merka yang bilang mau cabut dari Indonesia, dan tidak perlu pula berusaha jadi penengah dengan membuat argumen baru (seperti yang saya lakukan ini).

silent-treatment

Daripada aktif merusak dan menggaduh, alangkah indahnya kalau semua orang pasif mendamaikan dan mendiamkan.

Atau shitposting. Ya, itu lebih baik sepertinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s