Tentang Nyai kami

Dua hari sebelum Ramadan, kami sekeluarga menyempatkan diri untuk mengunjungi kakek kami di Serang. Kakek—Yai kami memanggilnya—sedang khusyuk bermain catur di depan rumah saat kami tiba. Saking asyiknya, Yai tidak menyadari kehadiran kami.

Baru ketika Ayah duduk di sebelahnya, konsentrasi Yai buyar. Wajah galaknya berubah menjadi senyum yang merekah. Yai sangat senang ketika kami menjenguknya.

Di Serang, Yai tinggal bersama beberapa adik-adik Ayah dan juga beberapa sepupu saya. Di hari-hari selain Lebaran dan hari besar lainnya, rumah yang luas ini tidak diisi oleh banyak orang. Maka bisa dibayangkan betapa membosankannya hidup seorang pensiunan jaksa yang kini mengisi harinya menjadi dosen dan main catur.

Maka kehadiran kami—atau siapa pun kerabatnya yang masih tersisa—bagi Yai sama spesialnya dengan datangnya bulan Ramadan itu sendiri.

“La ziarah galo ke makam Ibu?” tanya Yai dengan suara paraunya.
“La sudah.”

Percakapan Ayah dan Yai barusan sempat saya tangkap sesaat sebelum saya masuk ke dalam rumah. Ibu yang dimaksud Yai adalah ibu dari Ayah, Nyai kami.

Sudah delapan tahun lamanya Nyai meninggal dunia. Dan selama delapan tahun itulah kami menziarahi makamnya saban kali bulan Ramadan tiba. Makam Nyai tidak jauh dari tempat tinggal Yai, hanya berjarak beberapa kilometer di pinggir kota Serang.

Makam Nyai | Photo
Ziarah, circa 2011

Sedari kecil, keluarga besar Ayah terasa jauh bagi saya. Kami hanya bertemu dengan mereka setiap berlebaran, karena saat itu Yai dan Nyai masih tinggal di Bandar Lampung sebelum akhirnya pindah ke Serang belasan tahun yang lalu. Berlebaran ke Bandar Lampung, menurut saya adalah salah satu momen spesial di hidup ini.

Saat itu ritual mudik dan pulang kampung masih terasa kental. Saya masih sempat merasakan lelahnya mengantre di pelabuhan Merak, asinnya angin laut Selat Sunda, dan nikmatnya makan perbekalan seadanya di dalam kapal Feri.

Tujuh jam kami menghabiskan waktu di jalan. Tetapi, sesampainya di sana, rasa lelah itu seakan hilang. Keluarga besar hadir menyambut kami dengan suka cita bak raja dari Pulau Jawa. Dan tentu saja, Nyai kami yang paling semangat menyambut kami.

Nyai. Tawa khasnya, suaranya yang serak merdu, raut wajahnya yang kuat, dan masakannya yang luar biasa enak itu benar-benar saya nantikan tiap tahunnya. Namun, dari semua itu, ada satu hal tentang Nyai yang membuat dada saya sesak setiap kali saya mengenang beliau.

Setiap kami pamit sehabis berlebaran selama sepekan lamanya, Nyai akan menyuruh kita duduk, kemudian ia akan membacakan doa-doa ke ubun-ubun kami. Terakhir, Nyai meniup kepala kami dengan lembut, tanda doanya telah usai.

Maka ketika Nyai meninggalkan kami semua, Nyai turut serta membawa doanya ke alam kubur. Tidak ada lagi yang meniup ubun-ubun kami saat hendak pulang. Tetapi bagi saya, yang terpahit, adalah ketika saya tidak sempat meniup ubun-ubunnya saat Nyai hendak berpulang.

Doaku untukmu selalu, Nyai.

Al-Fatihah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s